DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

ANGKAT TANGAN KIRIMU TINGGI-TINGGI KE ATAS

ANGKAT TANGAN KIRIMU TINGGI-TINGGI KE ATAS

Angkat tangan kirimu tinggi-tinggi ke atas
sebagai simbol kemerdekaanmu
bahwa kita bebas
menciptakan diri kita sendiri

Angkat tangan kirimu tinggi-tinggi ke atas
sebagai simbol kedaulatanmu
untuk merayakan hidup
bukan meratapi atau menangisi

Angkat tangan kirimu tinggi-tinggi ke atas
sebagai simbol semangatmu
mengatakan "ya" pada hidup
dengan segala konsekuensi

Surakarta, 18 Oktober 2012
Padmo Adi

(^_^) \m/

Comments