DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

STANDARD GANDA


Standard Ganda

Ketika ada lelaki digoda banci, kita akan tertawa. Lucu... .
Coba subyeknya kita ganti. Perempuan digoda Lelaki. Akankah masih lucu? Kita akan berteriak-teriak "pelecehan seksual".

Ketika kita melihat para penjagal menjagal sapi dengan sadisnya, kita bilang, "Sapi kan memang ditakdirkan untuk dimakan."
Coba sapi itu diganti anjing. Tentu kita akan segera berteriak kepada si penjagal, "Manusia amoral!!!"

Ketika ada berita perempuan memperkosa lelaki beramai-ramai, kita akan tertawa geli. Pasti si lelaki keenakan.
Coba itu dibalik. Masihkah kita akan tertawa geli?

Ketika seorang kaya naik motor harley dengan suara knalpot menggelegar, polantas takkan menilangnya. Bilangnya, "Knalpot standardnya seperti itu.
Coba itu kita naik motor bersilinder kecil berknalpot Akralinga. Pasti langsung gergaji di tempat, dapat surat tilang, tanpa dicek dengan alat pengukur desibel.

Waktu ada bule perempuan jalan pakai kaos singlet dan hotpants di jalanan kota di Indonesia yang panas ini, kita cuek saja, malah sesekali curi pandang.
Coba itu yang jalan pakai kaos singlet dan hotpants si Tumini... . Segera kita akan bernyanyi lagunya Jahanam, Tumini Nggatheli.

Ketika seorang lelaki poligami, kita pikir itu wajar. Sunnah Rasul.
Coba itu perempuan yang poligami, kita pasti segera memakinya "lonthe tua tak tahu diri".

Ketika kota Paris diteror warga ber-KTP Paris, kita segera mengganti PP dengan bendera Prancis.
Coba kejadian serupa terjadi di sebuah kota di Lebanon, Syria, atau bahkan Papua... we give no shit!

Masih ingat ketika Yogyakarta mengancam akan memisahkan diri dari Indonesia beberapa tahun yang lalu? Kita anggap itu angin lalu saja. Tidak ada reaksi keras apapun.
Apa yang terjadi jika hal itu dilakukan Papua? Moncong senjata segera menumpahkan darah.

Masih ingat ketika Yogyakarta mengibarkan bendera janur kuning, bukan gula-klapa (merah putih)? Kita anggap itu angin lalu saja. Tidak ada reaksi keras apapun.
Apa yang terjadi jika hal itu dilakukan Papua? Mengibarkan Bintang Kejora? Moncong senjata segera menumpahkan darah.

Masih ingat ketika FPI dan HTI berteriak-teriak bahwa Pancasila itu haram? Lalu, khilafah solusinya? Kita anggap angin lalu saja. Reaksi yang paling keras hanyalah memaki di internet.
Apa yang terjadi jika Papua lebih mencintai Bintang Kejora? Moncong senjata segera menumpahkan darah.

@KalongGedhe

Comments

  1. ttg laki2 digoda banci, mau komplain..
    harusnya perempuan bukan digoda laki2...
    tp perempuan digoda cwe macho... hihi.. gt mas.. hihi

    ReplyDelete

Post a Comment