SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM

SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM * kepada N   Sebuah bintang jatuh di atas makam, pusara ayahnya jadi bunga yang segera layu remuk   dia dihancurkan rayu menawarkan cinta palsu oleh yang berseragam sang idaman mertua yang seharusnya menjaga tapi malah justru memperkosa melecehkan menghamili tanpa persetujuan dan tanpa pertanggungjawaban lalu membuatnya membunuh benihnya sendiri berkali-kali   yang melahirkan kebudayaan dipaksa mengugurkan janinnya demi kehormatan seseorang berseragam   dari atas makam itu api amarah bergelora membakar neraka membakar surga bumipun berkobar yang maya membara   keadilan diteriakkan seragam cokelat koyak jadi warna jingga di balik rangka baja   tapi kisah ini hanya simptom saja dari suatu kengerian yang terlanjur membanal   Jangan hanya menutupi vagina dengan dalih melindunginya Lalu menyalah-nyalahkannya ketika terluka. Tapi justru kita perlu memberadabkan penis-penis

DUA MATA KECIL

DUA MATA KECIL
*kepada Ramanjaya

Masih dapat aku ingat dengan jelas
satu setengah tahun lalu kaunangis dengan keras
kemudian kaukencingi baju putih bidan-bidan itu
Seketika pecah pula air mataku memandangmu
Kunamai kau ‘Rama Sanjaya Padmakarna’
anak lelaki yang kudamba dari masa muda

Lekas nian waktu berlalu
Kini kaulari-lari tak kenal waktu
Ketika kupanggil ‘Rama’, “Njaya,” jawabmu
Leleh hati ini saat dengar kaubilang ‘Bapak’ padaku
lalu kaulari lagi menuju ibumu yang ayu
bilang “Nyonyo”, kemudian meringkuk nenen susu

di pendapa TBJT

Ramanjaya, kagol ini lenyap acap kali aku memelukmu
Dengan dua mata kecil itu, dalam-dalam aku kaupandang
Erat kaupegang pundak ini, tak rela kutinggal pergi
Namun sering aku harus pergi, demi nasi untukmu dan ibu
sebab puisi tak tiap hari bisa jadi nasi yang bikin kenyang
Tapi denganku kaucuma mau main ‘Oa’, bukan nasi

Ramanjaya, mbah kakungmu mati belum genap empat lima
Doakan bapak, biar bisa hidup agak lebih lama darinya
biar bisa nemani kamu besok waktu TK main bola
Dan semoga Tuhan Allah sudi mengabulkan satu doa
Permohonanku, aku bisa mengajakmu berkendara berdua
sebagaimana dulu bapakku mengajakku berkendara

Surakarta Utara, 22 Oktober 2018
Padmo Adi

Comments