DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

SEDEKAT TELINGA, SEJAUH RAGA, SEJAUH MATA, SEDEKAT JIWA


SEDEKAT TELINGA, SEJAUH RAGA
SEJAUH MATA, SEDEKAT JIWA


Jaket touring. Dokumen pribadi.

Aku rindu dekap peluk hangatmu.
Kapan lagi kita bisa pergi ke mana bersama siapa seperti dulu?
Wabah ini memisahkanku dari mereka yang kukasihi.
Wabah ini juga membuatku tak lagi bisa menikmati kehangatan perlindunganmu.
Jika hari baik telah tiba, mari kita melaju ke arah matahari terbit;
kita seberangi dua selat itu.
Di sana, kita nikmati semangat muda, seakan kita abadi selamanya.
Namun, sebelum semuanya itu, kita harus tetap berada di sini, hadir sekaligus absen, terhubung sekaligus terputus, bersama sekaligus sendiri... sendiri-sendiri bersama.
Kita memang akan mati, tetapi tidak hari ini.
Kita akan menyintas!
Dan biarlah wabah ini melintas.

Malang, 16 April 2020
Padmo Adi

Comments