MENJELANG BINATANG DARI SEBERANG

  MENJELANG BINATANG DARI SEBERANG   Musikalisasi puisi dengan suno.com Aku melihat binatang buas besar dari timur berenang perlahan namun pasti dari kedalaman samudera bergerak hingga ke kepulauan kita yang dijamahnya bakal celaka   Aku melihat matanya merah menyala kepalanya seperti kepala singa aumannya menjelma kegelisahan lidahnya lidah-lidah api napasnya membakar segala   Aku melihat tubuhnya keras laksana kuda nil berwarna jingga terang seperti bara kaki-kakinya seperti kaki mastodon sementara ekornya mirip ekor buaya menyeret maut ke segala penjuru   Aku melihat duburnya menyembur metana Awan basah disapunya lenyap tak tersisa Sumber-sumber mata air jadi kering Sumur-sumur kerontang tak bisa diminum Panenan gagal, paceklik pun mencekik   Wahai ... wahai ... wahai ... bangsa yang dipimpin raja tua dementia yang emasnya tak lebih berharga daripada tembaga yang lumbungnya mlompong dikuras cukong...

PESTA SUNYI OLIGARKI

 PESTA SUNYI OLIGARKI

 

Tim Kamboja, Garda Akhir RS Brayat Minulya memberi penghormatan terakhir dan doa kepada jenazah korban covid19. Begajah, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto dari Antonius Suhartanto.

Matahari pagi membakar orang-orang renta yang memohon hidup darinya

Pada lorong-lorong rumah sakit banyak orang keleleran menolak mati

Banyak juga orang meregang nyawa sendiri di rumah tanpa sempat melolong minta tolong

Ambulan-ambulan mulai lunglai, tak lagi kuat mengantar tubuh-tubuh dan bangkai

 

Sementara itu di jalanan-jalanan kota,

aku melihat wajah-wajah oligarki

menjual diri pada baliho-baliho

besar-besar

sembari menulis nama lengkap

dan empat angka:

2024

 

Aku ingin meludah!

Di saat kita dilanda nestapa...

bernapas tak bisa, perut juga meronta!

Aku ingin muntah!

Di saat maut mengepung laksana sekawanan serigala...

pergi keluar mati dicekik korona

tetap di rumah mati kelaparan nasi tiada

 

Kita

ditinggalkan

mati

sendiri

Sementara para oligarki pamer foto dengan senyum pada muka,

Mengemis-emis 2024 nanti kita coblos wajah mereka,

supaya bisa ada di senayan,

supaya bisa ada di istana merdeka

Padahal kita sudah lebih dari setahun merana,

menghitung hari

menghitung nama

kali ini giliran siapa dijagal ajal

 

Jangan... janganlah mati hari ini!

Sebab kita cuma akan jadi pamflet

lalu di-broadcast sehari

dan besok dilupakan,

jadi data pada Negara

yang banyak bilangannya dimanipulasi

dan bagi Armando semata deret angka

tanpa sejarah

tanpa cerita

tanpa cita

 

Mari saling bergandengan

tetangga bantu tetangga

kita perkuat komunitas

kita jaga kerabat

kita sapa saudara yang tengah bergulat

sembari kita ingat-ingat wajah-wajah yang telah memikirkan 2024!

Kita kutuk sumpahi mereka,

kita akan tetap di rumah saja tatkala kelak mereka akhirnya menggelar pesta!

Biar jadi pesta sunyi, sebab saat ini mereka biarkan kita mati.

 

Singosari, 24 Juli 2021

Om Dapdia

Comments