SATU OKTOBER

  SATU OKTOBER   40 HARI | 135 KORBAN JIWA | 6 TERSANGKA Dua ratus sembilan belas atau seratus dua lima Yang jelas, kami bukan cuma angka! Kami adalah para pecinta Datang ke Kanjuruhan bawa harapan Bersama keluarga, anak-anak, dan sahabat Mendukung para pahlawan kami yang hebat   Gas air mata yang polisi tembakkan di Kanjuruhan Membuat air mata ibu kami berguguran Mayat-mayat kami adalah korban keserakahan Bagi cukong-cukong yang otaknya cuma cuan, Kami hanya dipandang satu tiket satu goban Bukan nama yang punya cerita dan masa depan   Usut! Usutlah! #USUTTUNTAS! Kalian harus jaga solidaritas! Kita ini pecinta, bukan komoditas! Cinta hal yang sama: sepak bola demi peradaban Satu Oktober punya makna beda tahun depan Itu hari akan jadi hari damai dan persaudaraan!   Kini, doakanlah kami... Selalu kenangkanlah kami... Kanjuruhan satu Oktober Adalah #KanjuruhanDisaster Jangan lagi terulang... Kami telah pulang.   Malang, 03 Oktobe

PESTA SUNYI OLIGARKI

 PESTA SUNYI OLIGARKI

 

Tim Kamboja, Garda Akhir RS Brayat Minulya memberi penghormatan terakhir dan doa kepada jenazah korban covid19. Begajah, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto dari Antonius Suhartanto.

Matahari pagi membakar orang-orang renta yang memohon hidup darinya

Pada lorong-lorong rumah sakit banyak orang keleleran menolak mati

Banyak juga orang meregang nyawa sendiri di rumah tanpa sempat melolong minta tolong

Ambulan-ambulan mulai lunglai, tak lagi kuat mengantar tubuh-tubuh dan bangkai

 

Sementara itu di jalanan-jalanan kota,

aku melihat wajah-wajah oligarki

menjual diri pada baliho-baliho

besar-besar

sembari menulis nama lengkap

dan empat angka:

2024

 

Aku ingin meludah!

Di saat kita dilanda nestapa...

bernapas tak bisa, perut juga meronta!

Aku ingin muntah!

Di saat maut mengepung laksana sekawanan serigala...

pergi keluar mati dicekik korona

tetap di rumah mati kelaparan nasi tiada

 

Kita

ditinggalkan

mati

sendiri

Sementara para oligarki pamer foto dengan senyum pada muka,

Mengemis-emis 2024 nanti kita coblos wajah mereka,

supaya bisa ada di senayan,

supaya bisa ada di istana merdeka

Padahal kita sudah lebih dari setahun merana,

menghitung hari

menghitung nama

kali ini giliran siapa dijagal ajal

 

Jangan... janganlah mati hari ini!

Sebab kita cuma akan jadi pamflet

lalu di-broadcast sehari

dan besok dilupakan,

jadi data pada Negara

yang banyak bilangannya dimanipulasi

dan bagi Armando semata deret angka

tanpa sejarah

tanpa cerita

tanpa cita

 

Mari saling bergandengan

tetangga bantu tetangga

kita perkuat komunitas

kita jaga kerabat

kita sapa saudara yang tengah bergulat

sembari kita ingat-ingat wajah-wajah yang telah memikirkan 2024!

Kita kutuk sumpahi mereka,

kita akan tetap di rumah saja tatkala kelak mereka akhirnya menggelar pesta!

Biar jadi pesta sunyi, sebab saat ini mereka biarkan kita mati.

 

Singosari, 24 Juli 2021

Om Dapdia

Comments