DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

SEMBILAN BELAS PEMUDA JALAN CEMARA

SEMBILAN BELAS PEMUDA JALAN CEMARA

 

19 Novis MSF 2007/2008

kita pernah bersama di kaki Merbabu, di Salatiga
kita pernah bersama di kaki Merapi, di Yogyakarta
lalu kita tempuh perutusan kita masing-masing
kini kita berserakan di kota-kota yang asing

takkan pernah terulang makan siang bersama di Jalan Cemara
takkan pernah terlupa malam-malam hening penuh dengan doa
takkan pernah kembali pagi-pagi buta dan segelas anggur misa
apa kabar gadis cantik penjaga warnet bernama Memi di sana?

 

29 Oktober 2020

Padmo Adi


Comments

Post a Comment