DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

TEMPAT PENGUNGSIAN

 TEMPAT PENGUNGSIAN

 

Mengikuti perayaan ekaristi secara daring sebab harus bersembunyi dari incaran virus SARS-CoV-2
Foto dokumentasi pribadi

Harus ke mana lagi kita lari menghindari wabah ini?
Pada akhirnya, kita memohon seseorang untuk membiarkan kita memakai rumahnya untuk bersembunyi.

Ke barat kita tak lagi punya tempat.
Di timur kita cuma bisa numpang tidur.

Mari bersembunyi lagi
seperti kelinci yang masuk ke liang
tatkala masa paceklik menghadang
Tetap merawat hidup itu lebih dari cukup

 

13 Agustus 2021

Padmo Adi

Comments