DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

BEBAN NEGARA

 BEBAN NEGARA

 

Apakah bagi Negara pendidikan itu beban?

Aku mencoba melihat kembali

perihal apa yang masih tersedia

apa-apa saja yang masih berharga

Ah, sedih sekali inkarnasi jadi WNI!

 

Ibu dan ayahku pendidik bangsa

mereka cerdaskan bocah-bocah

mengabdi di daerah pinggir kota

di pedalaman utara Jawa Tengah

 

Eyang maju tempur kala revolusi

bersama Ignatius Slamet Riyadi

kini tetirah langgeng di Surakarta

Merah Putih ada pada nisannya

 

Warengku adalah Tiyang Mardika

yang nganggit sastra di Surakarta

tapi siapa yang kini baca romannya?

apalagi dia tulis pakai Hanacaraka

 

Namun, inilah aku di sini kini

meratapi pajak yang lipat tinggi

lihat beras naik tak turun lagi

dianggap beban walau mengabdi

 

Ah, jangan kauajari nasionalisme

tak perlu kauajari cinta tanah air

Negara ini telah lupa preambule

Sila V dingin beku tak pernah cair

 

Malang, 21 Agustus 2025

Padmo Adi

Comments