DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

BUKAN SESIAPA

 BUKAN SESIAPA

seorang penyair merokok
 

Beberapa waktu silam

kukubur mimpiku dalam

jadi mimpi buruk

menatapku penuh kutuk

 

Namun, aku mulai terima

hidup terus bergulir

jadi bukan sesiapa adalah bahagia

di hadapan semesta aku cuma sebutir

 

segala kesadaran ini

bahwa aku hidup

Tuhan begitu kasih

jika ada tuhan minta kamu membunuh

kamu layak curiga

jangan-jangan dia sisi gelap manusia

 

Allah adalah Kasih

barang siapa membunuh sesamanya

pun bahkan dalam nama tuhan

dia tidak tinggal dalam Allah

 

Malang, 15 Juli 2025

Padmo Adi

Comments