MARIA GRAVIDA
Maria
Kok Ngono?
Salah satu contoh yang
menarik pada fenomena hubungan agama dan seni adalah karya patung Maria
Gravida. Karya tersebut menampilkan sosok Maria yang dalam keadaan hamil besar.
Sebenarnya seni patung Maria Gravida bukanlah merupakan hal yang betul-betul
baru; telah ditemukan seni patung Maria Gravida pada tahun 1400-an di Eropa.
Namun demikian, patung yang menggambarkan perawan Maria tengah hamil besar itu
adalah karya seni yang minoritas. Pada umumnya Gereja akan menggambarkan Bunda
Maria sebagai seorang ratu (regina) yang gilang-gemilang. Pada beberapa karya,
seperti patung Maria yang ada pada Gereja Lawang—Malang, Maria digambarkan
sebagai sang Perempuan yang ada pada Kitab Wahyu. Baik Maria Regina ataupun
Maria sebagai Perempuan Kitab Wahyu itu semua menggambarkan Maria yang “sukses”
dan penuh kejayaan. Mudah bagi seorang Kristiani untuk berdevosi pada Maria
yang menang itu.
Berbeda dengan penggambaran
dalam karya seni patung Maria yang mainstream itu, patung Maria Gravida
menggambarkan Maria tengah hamil tua, berpakaian biasa saja, perutnya terlihat
membuncit, salah satu tangan mengelus perutnya, payudaranya tampak membesar
seperti layaknya perempuan hamil pada umumnya, kerudungnya tidak sepenuhnya
menutupi rambutnya, sementara rambutnya terlihat biasa saja, roman mukanya
menampakkan sebuah paradoks (menahan beban mengandung tetapi sekaligus juga
rasa rindu penuh penantian ingin berjumpa dengan anak yang akan dilahirkan);
Maria sungguh digambarkan seolah-olah seperti tetanggamu sebelah rumah yang
sedang hamil tua, tidak ada ningrat-ningratnya, sungguh sangat manusiawi.
Saya sendiri berjumpa
dengan patung Maria Gravida itu di sekitar tahun 2021-2022 di sebuah toko
rohani di Kota Malang. Saya terdorong untuk membelinya sebab saya merasa bahwa
jarang sekali ada karya seni (baik patung maupun lukisan) yang menggambarkan
Maria dalam keadaan hamil tua. Ketika umat Katolik di lingkungan datang ke
rumah untuk berdoa rosario, saya menggunakan patung Maria Gravida itu. Kemudian
saya bertanya kepada salah satu umat lingkungan di sana, apakah dia pernah
melihat patung Maria hamil semacam itu. Orang itu mengamati patung Maria
Gravida itu dengan penuh rasa keheranan, lalu menjawab bahwa dia belum pernah
melihat patung Maria yang semacam itu. Dia pun bertanya di mana saya
membelinya. Dari pengalaman sederhana itu, saya membuat asumsi awal bahwa memang
patung Maria Gravida merupakan seni patung Maria yang minoritas, dibandingkan
dengan patung Maria Regina atau yang lainnya.
Pada kesempatan yang lain
pula saya menceritakan patung itu kepada sahabat saya, seorang pastur Yesuit.
Pada waktu itu saya masih belum mengetahui nama patung itu; hanya mengatakan
“patung Maria hamil”. Pastur Yesuit itu menjelaskan bahwa patung itu adalah
Maria Gravida. Gravida sendiri sebenarnya memiliki arti harafiah “hamil”.
Istilah itu sering kali digunakan di dunia kedokteran untuk menyebut kehamilan
seorang perempuan. Biasanya para tenaga kesehatan akan berkata Gravida 1 untuk
kehamilan pertama, Gravida 2 untuk kehamilan kedua, dan seterusnya. Pastur
Yesuit, sahabat saya, itu kemudian bercerita bahwa dia juga memiliki patung Maria
Gravida di kapel tempat dia ditugaskan. Saya ditunjukkan foto patung itu. Pada
layar smartphone 5 inchi saya melihat patung Maria berwarna putih, berperut
besar, dengan kedua tangan memegangi perutnya—tangan kiri memegang perut bawah
dan tangan kanan memegang perut atas, dengan payudara membesar, dan rambut
panjang tergerai tanpa kerudung. Pastur Yesuit itu mengatakan bahwa patung itu
adalah pemberian seorang teman—seniman di Yogyakarta. Saya mengenal seniman
itu. Saya pun meminta dikirimi fotonya.
Patung Maria Gravida, berjudul Humanity of Mary, karya Galuh Sekartaji
Bertahun-tahun kemudian saya
mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai perempuan seniman pembuat patung
Maria Gravida yang diceritakan sahabat saya itu. Nama seniman itu adalah Galuh
Sekartaji. Dia bercerita bahwa patung Maria Gravida yang dia buat itu berjudul Humanity
of Mary. Saya rasa layak patung itu diberi judul demikian, sebab saya
melihat bahwa patung itu sungguh menggambarkan Maria sebagai perempuan hamil
yang sangat manusiawi, berbeda jauh dengan penggambaran Maria Regina. Galuh
bahkan bercerita bahwa beberapa umat Katolik, termasuk dari keluarganya,
menolak bahwa patung itu adalah patung Maria, “Maria kok kaya ngono?”
Ada imaji Maria yang tidak nyambung antara patung Maria buatan Galuh dengan
imaji beberapa umat Katolik tersebut.
Galuh sendiri menyampaikan
bahwa patung itu dia buat di sekitar tahun 2009, ketika dia masih menjadi
mahasiswa di ISI Yogyakarta. Dia membuat patung itu dalam rangka Jalan Salib
Natal. Patung itu menjadi salah satu stasi dari rangkaian jalan salib tersebut.
Sebagai seniman, perempuan, Katolik, dan sekaligus Jawa, Galuh ingin
mengekspresikan seorang Maria yang sungguh-sungguh manusia perempuan. Dia
mencoba membawa sosok Maria ke dalam konteks “di sini”. Dia membayangkan
momen-momen ketika Maria yang betul-betul perempuan tengah hamil Yesus—yang dia
tahu betul suatu saat kelak akan mati menanggung dosa manusia. Relasi Maria dan
Yesus paling mendalam, menurut Galuh, adalah pada saat Maria mengandung Yesus
di dalam rahimnya. Setelah rangkaian Jalan Salib itu, Galuh mencoba menjual patung
itu, tetapi tidak ada yang mau membelinya. Hingga pada akhirnya dia memberikan
patung itu kepada seorang pastur Yesuit, yang kemudian membawa patung itu ke
Jakarta. Galuh mengaku sudah lama tidak berjumpa dengan patung Maria Gravida
buatannya tersebut.
Saya dan Mayang
Anggrian—rekan kerja saya—menjumpai tiga orang perempuan yang pada saat itu
sedang dalam kondisi hamil. Dua orang di antaranya adalah muslimah; satu
berjilbab dan satu tidak. Satu orang lagi adalah perempuan Katolik. Kami
mengajak para perempuan hamil itu untuk memandang karya seni patung Maria
Gravida dan meminta pendapat mereka. Pada umumnya para perempuan itu merasa
terwakili, sebab bahkan dalam seni profan sekalipun memang jarang sekali ada
karya seni yang mewakili kondisi perempuan yang sedang mengandung. Perempuan
muslimah yang berjilbab itu juga tidak merasakan jarak, sebab di dalam agama
Islam kisah Maryam yang mengandung dan melahirkan Isa sungguh sangat familiar.
Bahkan, di dalam Al-Quran nama Maryam disebut dan dikisahkan.
Mayang Anggrian pun juga
sempat melakukan autoetnografi. Dia adalah seorang akademisi seni rupa murni
dan berlatar belakang agama Kristen Protestan. Secara umum agama Protestan
tidak begitu menaruh perhatian terhadap Maria. Namun, perjumpaan Mayang dengan
Maria Gravida nyatanya berkesan baginya. Mayang dibawa kembali kepada kenangan
ketika dia sedang hamil anaknya dulu kala. Perjumpaan dengan Maria Gravida
membuat dia mengingat bahwa tubuh perempuan itu bisa berubah, apalagi
pascahamil dan melahirkan. Dan, itu luar biasa; suatu penerimaan kebertubuhan.
Sementara, perempuan
Katolik yang sedang hamil itu mengatakan bahwa dia belum pernah melihat patung
Maria digambar kan sedang hamil besar sebelumnya. Dia tidak pernah menyangka
bahwa ada patung Maria yang sedang hamil seperti itu. Kondisi kehamilan
perempuan Katolik itu sebenarnya tidak baik-baik saja. Dia kemudian terdorong
untuk berdevosi kepada Maria Gravida, untuk memohon doa pada kehamilan dan
proses persalinan kelak, sehingga dapat melahirkan dengan selamat dan anaknya
sehat.
Pernyataan perempuan
Katolik itu menguatkan asumsi saya bahwa patung Maria Gravida merupakan gaya
patung Maria yang minoritas, setidaknya di Indonesia. Tidak banyak orang
Katolik yang mengenalnya. Walaupun begitu, menariknya, ketika Masa Adven tahun
2025 yang lalu tiba-tiba saja di media sosial banyak akun memposting
foto/gambar atau patung Maria yang tengah hamil tua. Beberapa gambar adalah
hasil olah Akal Imitasi (AI). Meskipun begitu, fenomena itu menarik.
Seolah-olah akun-akun media sosial itu hendak mengajak orang-orang, khususnya
orang Kristiani, untuk berjalan bersama seorang perempuan muda dari Nazareth
yang tengah hamil tua dan hendak melahirkan di Bethlehem, yang berarak 40-an
kilometer jauhnya. Pada Masa Adven 2025 itu, mendadak seni gaya Maria Gravida
menjadi tidak minoritas, menjadi dirayakan secara digital.
Jika kita merujuk pada
tafsir yang ada, kita akan semakin terhenyak. Ketika mengandung Yesus, Maria
baru berusia 14 tahun. Jelas kita tidak bisa menilai itu dengan kaca mata kontemprer,
bahwa itu adalah kehamilan di usia dini. Pada zaman itu, adalah lumrah gadis
seusia itu dinikahkan. Akan tetapi, patung Maria Gravida jelas tidak
menggambarkan gadis remaja, melainkan sesosok perempuan dewasa. Di sini
realisme garis keras tidak berlaku, saya rasa. Yang hendak disuguhkan bukan
realisme semacam itu. Maria Gravida cukup realis menggambarkan sesosok
perempuan yang tengah hamil tua, dengan tetap menempatkan rasa hormat tertentu,
sehingga para perempuan hamil bisa merasa terwakili, para perempuan Katolik
terdorong untuk berdevosi, dan secara umum kita tergelitik untuk bertanya “Maria
kok ngono?”
Malang, 14 Maret 2026
Yohanes Padmo Adi
Nugroho
Comments
Post a Comment