ANGIN SELATAN BULAN JULI

 ANGIN SELATAN BULAN JULI terima kasih atas cinta kita Angin selatan bulan Juli bawa hawa dingin nyayat-nyayat kulit nusuk-nusuk belulang Angin selatan bulan Juli ngingatkanku padamu yang njelma dermaga labuhanku tiap senja Angin selatan bulan Juli bekukan embun pagi erat kau aku peluk hangatmu nunda waktu Angin selatan bulan Juli membawa kenangan Salatiga aku mengungkapkan cinta kau pun tersipu mengiya Malang, 28 Juli 2026 Padmo Adi

Antara Eksistensi dengan Esensi

Antara Eksistensi dengan Esensi
-Padmo Adi-

Katakanlah, sebagai contoh, aku adalah dokter. Bukan berarti aku harus menjadi dokter. David Hume mengatakan bahwa tidak ada ‘adalah’ yang memiliki arti ‘harus’. Eksistensiku memang dokter, tapi apa esensiku dokter? Jika eksistensi dokter itu tanpa esensi dokter, bukankah itu sama saja dengan apa yang dikatakan Carl Gustav Jung tentang persona/topeng?

Lalu, bagaimana bereksistensi secara orisinal? Pertama aku harus mengenali esensiku. Seperti kata Plato, “Kita mengenang/mengingat kembali idea kita.” Atau, dengan bahasa Aristoteles, esensi adalah potentia sedangkan eksistensi adalah actus. Eksistensi adalah bagaimana ‘mengalirkan’ esensi.

Apakah hal ini tidak bertentangan dengan credo para eksistensialis yang diproklamasikan oleh Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi? Tidak! Dari cara kita bereksistensilah orang mengetahui esensi kita. Orang melihat eksistensi dulu sebelum esensi.

Maka, jika aku bereksistensi tanpa esensi, aku telah membohongi orang lain, terlebih aku membohongi diriku sendiri, bahkan aku menghina TUHAN yang telah ‘menanam’ esensiku (yang orisinal) dalam kedirianku, meski TUHAN menghormati kebebasan manusia. Sebab, jika esensi adalah potentia dan eksistensi adalah actus, eksistensi yang tanpa esensi adalah eksistensi yang rapuh dan tak berdasar.

Comments