SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

Antara Eksistensi dengan Esensi

Antara Eksistensi dengan Esensi
-Padmo Adi-

Katakanlah, sebagai contoh, aku adalah dokter. Bukan berarti aku harus menjadi dokter. David Hume mengatakan bahwa tidak ada ‘adalah’ yang memiliki arti ‘harus’. Eksistensiku memang dokter, tapi apa esensiku dokter? Jika eksistensi dokter itu tanpa esensi dokter, bukankah itu sama saja dengan apa yang dikatakan Carl Gustav Jung tentang persona/topeng?

Lalu, bagaimana bereksistensi secara orisinal? Pertama aku harus mengenali esensiku. Seperti kata Plato, “Kita mengenang/mengingat kembali idea kita.” Atau, dengan bahasa Aristoteles, esensi adalah potentia sedangkan eksistensi adalah actus. Eksistensi adalah bagaimana ‘mengalirkan’ esensi.

Apakah hal ini tidak bertentangan dengan credo para eksistensialis yang diproklamasikan oleh Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi? Tidak! Dari cara kita bereksistensilah orang mengetahui esensi kita. Orang melihat eksistensi dulu sebelum esensi.

Maka, jika aku bereksistensi tanpa esensi, aku telah membohongi orang lain, terlebih aku membohongi diriku sendiri, bahkan aku menghina TUHAN yang telah ‘menanam’ esensiku (yang orisinal) dalam kedirianku, meski TUHAN menghormati kebebasan manusia. Sebab, jika esensi adalah potentia dan eksistensi adalah actus, eksistensi yang tanpa esensi adalah eksistensi yang rapuh dan tak berdasar.

Comments