SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

Sastra dan Pemuda

Sastra dan Pemuda

Sayang sekali saya tidak dapat menghadiri Malam Ngopi Nyastro XVI ini. Akan tetapi, sebagai wakil dari kehadiran saya, saya titipkan tulisan singkat mengenai pemuda dan sastra ini. Sebelumnya, salam saya kepada Bung Rabu Pagi, Bung Matahun Wirabhumi, Bung Langgeng sugiARTo, dan Bung Stevano Yusuf, serta kepada segenap penyair yang hadir ngopi di kafe Bjong ini.
Dahulu sekali Rendra pernah menggugat pemerintah, “Bagaimana mungkin kebudayaan dapat dibangun di atas revolusi?” Dulu sekali ketika saya masih ingusan dan masih menjadi fans berat marxisme, saya menentang pendapat ini. Akan tetapi, seiring dengan tumbuh dewasanya pemikiran dan pemahaman ini, saya akhirnya sependapat dengan Rendra. Pada abad X kebudayaan kita telah maju. Nenek moyang kita telah mampu membangun monumen-monumen yang agung, menulis kitab-kitab yang masyur, dan membangun peradaban yang dahsyat. Bahkan, nenek moyang kita mampu membangun kapal yang tak mampu ditembus meriam Portugis pada era penjelajahan samudera. Namun, sejak abad XV tanah ini tidak pernah berhenti dari gejolak dan perebutan kekuasaan. Darah senantiasa membasahi tanah subur ini. Selama 500 tahun itu ada berapa dinasti yang silih berganti? Majapahit pindah ke Demak, Demak ke Pajang, Pajang ke Mataram Baru, Mataram memindahkan kekuasaan ke Kartasura, Mataram Kartasura mendapat perlawanan dari Sunan Kuning, akhirnya Mataram Kartasura memindahkan kekuasaan ke Surakarta, Mataram akhirnya pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, Surakarta dan Yogyakarta mendapat perlawanan Sang Sambernyawa, Surakarta akhirnya pecah menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran, sedangkan Yogyakarta pecah menjadi Kasultanan dan Pakualaman. Itu belum disebutkan intervensi Portugis, Spanyol, VOC, Inggris, Belanda, dan Jepang. Juga belum disebutkan peristiwa 17 Agustus 1945 dan peristiwa kudeta Soeharto.
Akan tetapi, bangsa ini mampu bertahan. Bangsa ini bertahan karena masih menyisakan ruang bagi sastra. Walaupun banyak dokumen, kakawin, dan lontar yang diboyong ke Eropa dan kini mustahil kita miliki kembali, bangsa ini masih bersastra walau hanya lewat lisan. Sastra senantiasa mengawal perjalanan bangsa ini. Mulai dari yang mainstream hingga yang kiri seperti Darmogandhul dan Gatholoco. Kadipaten Mangkunegara yang masyur dengan tradisi angkatan bersenjatanya yang dahsyat itu pun turut bersastra. Chairil Anwar mengiringi perjuangan kemerdekaan juga dengan sastra. Bayangkan, Chairil Anwar sempat membaca Nietzsche di tengah-tengah pergolakan bangsa!!! Rendra pun turut mengiringi perjuangan para mahasiswa dengan puisi-puisi pamfletnya. Sastra menjadi penyelamat kebudayaan di tengah-tengah pergolakan. Kalau ingin menghancurkan sebuah bangsa, laranglah pemuda-pemudanya untuk membaca dan bersastra.
Tanah ini masih belum berhenti dari pergolakan panjang 500 tahun itu. Akan tetapi, kebudayaan bangsa ini harus tetap dilestarikan. Sastrawan-sastrawan tua akan cukup usia dan mati. Maka, kita para pemuda inilah yang harus meneruskan menyelamatkan kebudayaan bangsa ini melalui sastra. Pakem dan aturan-aturan, biarlah itu semua menjadi kekayaan sastra klasik. Kita, para pemuda ini, hendaknya mentransvalusai (menilai kembali) sastra dan mengaktualkan di sini dan kini.
Angkat tangan kirimu tinggi-tinggi ke atas dan mari bersajak malam ini di sini.

Surakarta, 31 Oktober 2012
Padmo Adi

Comments

Post a Comment