MARIA GRAVIDA: Maria Kok Ngono?

  MARIA GRAVIDA Maria Kok Ngono?   Penampakan close up patung Maria Gravida. Dokumen pribadi. Salah satu contoh yang menarik pada fenomena hubungan agama dan seni adalah karya patung Maria Gravida. Karya tersebut menampilkan sosok Maria yang dalam keadaan hamil besar. Sebenarnya seni patung Maria Gravida bukanlah merupakan hal yang betul-betul baru; telah ditemukan seni patung Maria Gravida pada tahun 1400-an di Eropa. Namun demikian, patung yang menggambarkan perawan Maria tengah hamil besar itu adalah karya seni yang minoritas. Pada umumnya Gereja akan menggambarkan Bunda Maria sebagai seorang ratu (regina) yang gilang-gemilang. Pada beberapa karya, seperti patung Maria yang ada pada Gereja Lawang—Malang, Maria digambarkan sebagai sang Perempuan yang ada pada Kitab Wahyu. Baik Maria Regina ataupun Maria sebagai Perempuan Kitab Wahyu itu semua menggambarkan Maria yang “sukses” dan penuh kejayaan. Mudah bagi seorang Kristiani untuk berdevosi pada Maria yang menang itu. ...

Dua Wajah


Dua Wajah

Kalau kausimpan sejenak motormu,
lalu berjalan kaki, menyusuri jalan,
perempatan kota, dan tikungan di pedalaman,
atau sekadar naik bus, angkot, dan kereta
kauakan menjumpai barisan wajah-wajah

Ada cerita di balik wajah itu.
Ada drama, ada tragedi.
Ada romantika, ada komedi.
Wajah itu memiliki kisah sendiri-sendiri.

Namun, tak jarang kisah itu sembunyi
di balik roman muka dingin tanpa emosi.
Seakan tak ada yang terjadi
dan akan baik-baik sajalah esok hari.
Padahal, ketika kautatap wajah itu dengan jeli,
ada sebuah garis besar pemiskinan di negeri ini.

Namun, di sisi lain, pada suatu titik tertentu
kita perlu melampaui struktur, dan melihat pribadi.

Masih ada mental inlander yang bikin minder.
Hanya berhenti pada menjual iba kepada sesama.
“Seikhlasnya,” begitu pintanya.
Dan, ketika “seikhlasnya” itu diberikan,
bukan senyum ramah seperti sewaktu meminta,
melainkan sebuah gerutu kekecewaan.

Itulah dua wajah kemiskinan kita.
Satu sisi kita memang dipermiskin keadaan.
Namun, di sisi lain kita malah manja dalam kemiskinan
menjual-jual iba
tapi enggan bersyukur
juga lupa semboyan “berdikari”!

Berdikari itu memang menguras daya, Bung.

Malang, 30 November 2013
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments