SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA”

    SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA” Lapangan Parkir Atsiri UB. Kamis, 14 Agustus 2025 PKKMB Teras Budaya FIB UB 2025 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu, Berkah Dalem, Yang saya hormati: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Ketua dan Sekretaris Departemen,  Ketua Program Studi, pimpinan unit dan tenaga kependidikan FIB Segenap Dosen dan Tendik FIB Seluruh panitia pelaksana Teras Budaya 2025 Dan yang saya kasihi, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya, ARUNA KARSA 17 . Selamat pagi! Pada pagi hari ini layak kita mengucap syukur kepada Tuhan yang Mahaesa, sebab kita masih diberi rahmat kesehatan dan berkat kehidupan, sehingga kita sepagi ini dapat berkumpul di lapangan parkir Atsiri, untuk menjalani giat PKKMB Teras Budaya 2025. Tatkala Kaprodi saya, Mas Doni, memberi tahu bahwa saya telah dipili...

Hujan Deras dari Delanggu hingga Prambanan

Hujan Deras dari Delanggu hingga Prambanan

Ini adalah puisiku tentang hujan
entah untuk yang keberapa
tapi kali ini aku tidak bernostalgia

Kemarin aku berkendara
ke Jogja
dari Kota di mana ari-ariku dikuburkan

Di Pakis ada cegatan!
Aih, lihatlah itu para polisi
sudah siap memeriksa SIM-STNK
Kusiapkan surat-surat itu
agak lama memang
karena harus melepas sarung tangan
Tetapi ketika tiba giliranku,
polisi itu menyuruhku untuk terus saja
sebab gerimis makin jadi hujan
dan hujan pun menderas
(keparat!)

Aku pun menepi di depan toko beras
tak jauh dari lokasi cegatan
Di toko itu ada banyak karung beras
hatiku pun diselimuti rasa aman dan puas
Masih ada beras untuk dibeli
Masih ada untuk ditanak jadi nasi
Entah berapa rupiah untuk mengganti
Memang aku selalu senang melihat sawah
lalu murung melihatnya tumbuh beton megah
Mungkin suatu hari nanti aku takkan beli rumah
agar tak perlu menumbuhkan beton di sawah

Di depan toko beras itu kupakai mantol
sobek di ketiak, sobek pula di selangkang
tapi hanya itu mantol yang kubawa
walau di hadapan hujan deras ini pasti sia-sia

Hujan melebat di Delanggu
tapi makin laju motor kupacu
Berkendara di tengah hujan lebat
bikin Tuhan semakin dekat!!!

Air yang tercurah dari angkasa itu
menabrak kaca helmku
lalu mengalir ke samping
kanan dan kiri
Di depan hujan deras itu jadi tirai
warna kelabu
menetak jarak pandang
Kunyalakan lampu jauh
kunyalakan pula lampu hazard
Rajawali besiku tetap melaju
menembus tirai kelabu
Air berlompatan dari ujung spion
Air berlompatan dari sisi tanki
Air berlompatan dari sisi spakbor

Berkendara di tengah hujan lebat
bikin Tuhan semakin dekat!!!
Namun, di Prambanan semua itu selesai
Hujan deras berakhir jadi rinai
mengiringi sampai ke pondokan
di mana kudapati celanaku kuyup kehujanan

Ini adalah puisiku tentang hujan
entah untuk yang keberapa
tapi kali ini aku tidak bernostalgia

tepi Jakal, 21 Januari 2014
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments