SECAWAN ANGGUR

  SECAWAN ANGGUR Jika sekiranya mungkin biarlah anggur ini lalu daripadaku. Tapi bukan kehendakku yang jadi, melainkan kehendak Bapa di surga. Dokumen pribadi. Di sini... di kota ini... aku benar-benar disapih dikastrasi dibiarkan mati-hidup sendiri Tidak ada hangat peluk puk-puk Mama Tidak ada lembut dekap payudara Tidak ada selimur supaya tak lagi berair mata Dijauhkan dari Tanah pusaka tempat moyangku dibumikan Dan kini cuma jadi kerinduan yang kepadanya hasrat mendamba Akan tetapi, keadaan ini justru aku syukuri sebab aku dengan merdeka mengada tanpa perlu alasan yang mengada-ada Aku bebas menciptakan diri bebas mengartikulasikan diri Aku bebas merayakan hidup menari dengan irama degup Memang hidup yang senyatanya ini tragedi belaka Apa makna dari membuka mata pagi-pagi, lalu memejamkannya di waktu malam tiba? Kecerdasan adalah memaknai tragedi sebagai komedi. Lalu kita bisa menertawakan duka yang memang musti kita terima! Menerima Mengakui adalah

Syair Seorang yang Tak Lagi Remaja

Syair Seorang yang Tak Lagi Remaja

Di sini
Hanya ada hening
Kecuali deru ombak
Mendera jiwa

Aku hanya seorang pengangguran
Dikutuki waktu
Disumpahi hari tuaku

Dan bintang-bintang di langit itu
Mungkin mereka sudah meledak
Jadi nebula
Ketika aku melihatnya

Di sini
Hanya ada hening
Dan bau amis laut
Setelah aku kencing
Kepada hidup aku bertaut

Menurutmu, siapakah aku ini?
Selalu kuharap, aku ini lelaki sederhana...
Seperti pulau di ujung sana
Seperti laut yang menderu ini

Drini, 2 Juli 2014
@KalongGedhe

Comments