DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

PARA PENCARI TUHAN

PARA PENCARI TUHAN

musikalisasi puisi dengan suno.com


Tuhan sudah tidak ada lagi di altar.
Tuhan keleleran di jalan.
Tuhan mengamen di perempatan.
Tuhan kena kusta mengemis di lampu merah.
Tuhan adalah sopir truck yang pulang malu, tak pulang rindu.
Tuhan adalah sopir bus AKAP yang ditilang polisi karena ugal-ugalan demi waktu berharga penumpang.
Tuhan adalah penjual tahu goreng di SPBU-SPBU.
Tuhan adalah penjual air mineral di terminal.
Tuhan adalah tukang parkir yang dimaki pengemudi Pajero.
Tuhan adalah suami yang pulang dari Jakarta membawa rindu anak bayinya.
Tuhan yang tersalib, disalib di jalanan basah sehabis hujan semalam.


Jalan Ruwet Duwet, Karangasem, 07 November 2016
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments

Post a Comment