DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

HANYA MAKI!


HANYA MAKI!

Sungguh aku ingin menulis puisi
Tapi yang kumiliki hanya maki
Kemarahan ini menggumpal
Selalu menghantui bagai ajal

Ingin kupotong tenggorokan itu
Dan kucincang bibir lamismu
Sebab kata yang keluar hanya muka
tapi semuanya tiada yang terbuka

Sungguh aku ingin menulis puisi
Tapi yang kumiliki hanya maki
Kautak pernah anggapku ada
Bagimu tak pernah ada "kita"

Jika bukan karena gadis berkacamata
mungkin perkara akan runyam semata
Dan perutusan juga belum selesai
Belum ada alasan untuk menyeringai

Seumpama aku Ramawijaya
kucampakkan Sinta setelah kuterima
Sayang aku ini Dasamuka
Kujaga Sinta walau dia tak cinta

Sungguh... aku ingin menulis puisi
Tapi aku takut, yang keluar hanya maki!

10 April 2017
@KalongGedhe

Comments