MARIA GRAVIDA: Maria Kok Ngono?

  MARIA GRAVIDA Maria Kok Ngono?   Penampakan close up patung Maria Gravida. Dokumen pribadi. Salah satu contoh yang menarik pada fenomena hubungan agama dan seni adalah karya patung Maria Gravida. Karya tersebut menampilkan sosok Maria yang dalam keadaan hamil besar. Sebenarnya seni patung Maria Gravida bukanlah merupakan hal yang betul-betul baru; telah ditemukan seni patung Maria Gravida pada tahun 1400-an di Eropa. Namun demikian, patung yang menggambarkan perawan Maria tengah hamil besar itu adalah karya seni yang minoritas. Pada umumnya Gereja akan menggambarkan Bunda Maria sebagai seorang ratu (regina) yang gilang-gemilang. Pada beberapa karya, seperti patung Maria yang ada pada Gereja Lawang—Malang, Maria digambarkan sebagai sang Perempuan yang ada pada Kitab Wahyu. Baik Maria Regina ataupun Maria sebagai Perempuan Kitab Wahyu itu semua menggambarkan Maria yang “sukses” dan penuh kejayaan. Mudah bagi seorang Kristiani untuk berdevosi pada Maria yang menang itu. ...

NUSANTARA... TANAH GARUDA!

NUSANTARA... TANAH GARUDA!


Indonesia,
Sabang-Merauke.
Lebih jauh dari pada London di Inggris ke Ankara di Turki.
Sama jauhnya dengan Pantai Barat hingga Pantai Timur Amerika Serikat.
Namun, baru di 3-4 pulaunya saja aku berkendara.
Begitu kaya, sekaligus begitu nelangsa...
Indonesia.
 
Gunung Merapi, Yogyakarta, Pulau Jawa
Andalas...
Pada ujung selatanmu aku pernah berdoa,
memohon Tuhan mengaruniaiku putra.
Tapi, mungkinkah aku sampai di ujung utara daratanmu,
berkendara di tanah Pendekar Perempuan gagah perkasa,
penetak kejantanan Belanda?

Celebes...
negeri para petualang dan pelaut ulung... .
Pemudamu petarung sejati.
Anak daramu bagaikan impian.

Papua...
kiranya kau bukan luka yang terus menganga!
Biarlah suaramu menggema di angkasa Nusantara.
Dan, deru berat sepatu boot itu sirna. Jadi senyum saudara.
Baku peluk. Bakar batu.
 
Pantai Sapenan, Lampung, Pulau Sumatera
Borneo...
akankah roda-rodaku merasakan lumpur musim hujanmu,
atau debu musim kemaraumu?
Pada tanahmulah sayatan oleh pisau keserakahan... kapitalisme.
Hutan hujanmu lestarilah.
Born-neo... .

Sunda Kecil... Sunda Kecil...
tunggulah kenekatanku.
Akan kuajak anak lelakiku berkendara
menyusuri pantaimu.
Inilah janji... .
Tunggulah kami.

Indonesia,
bagaimana mungkin aku tertarik berkendara ke ujung dunia,
ketika semua hingga ujung dunia berbondong-bondong pergi kepadamu?
 
Danau Tamblingan, Pulau Bali
Nusantara... Tanah Garuda!
Kelima silanya menyadarkanku,
Jawa, Surakarta, apa lagi Katolik itu bukan apa-apa,
hanya kepingan kecil dari Nusantara Raya.
Dan, seolah-olah aku belum berkendara ke mana-mana.
Angka 100.000 kilometer tidak ada apa-apanya.

Surakarta Utara, 15-16 Januari 2018
Padmo Adi

Comments