SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

NUSANTARA... TANAH GARUDA!

NUSANTARA... TANAH GARUDA!


Indonesia,
Sabang-Merauke.
Lebih jauh dari pada London di Inggris ke Ankara di Turki.
Sama jauhnya dengan Pantai Barat hingga Pantai Timur Amerika Serikat.
Namun, baru di 3-4 pulaunya saja aku berkendara.
Begitu kaya, sekaligus begitu nelangsa...
Indonesia.
 
Gunung Merapi, Yogyakarta, Pulau Jawa
Andalas...
Pada ujung selatanmu aku pernah berdoa,
memohon Tuhan mengaruniaiku putra.
Tapi, mungkinkah aku sampai di ujung utara daratanmu,
berkendara di tanah Pendekar Perempuan gagah perkasa,
penetak kejantanan Belanda?

Celebes...
negeri para petualang dan pelaut ulung... .
Pemudamu petarung sejati.
Anak daramu bagaikan impian.

Papua...
kiranya kau bukan luka yang terus menganga!
Biarlah suaramu menggema di angkasa Nusantara.
Dan, deru berat sepatu boot itu sirna. Jadi senyum saudara.
Baku peluk. Bakar batu.
 
Pantai Sapenan, Lampung, Pulau Sumatera
Borneo...
akankah roda-rodaku merasakan lumpur musim hujanmu,
atau debu musim kemaraumu?
Pada tanahmulah sayatan oleh pisau keserakahan... kapitalisme.
Hutan hujanmu lestarilah.
Born-neo... .

Sunda Kecil... Sunda Kecil...
tunggulah kenekatanku.
Akan kuajak anak lelakiku berkendara
menyusuri pantaimu.
Inilah janji... .
Tunggulah kami.

Indonesia,
bagaimana mungkin aku tertarik berkendara ke ujung dunia,
ketika semua hingga ujung dunia berbondong-bondong pergi kepadamu?
 
Danau Tamblingan, Pulau Bali
Nusantara... Tanah Garuda!
Kelima silanya menyadarkanku,
Jawa, Surakarta, apa lagi Katolik itu bukan apa-apa,
hanya kepingan kecil dari Nusantara Raya.
Dan, seolah-olah aku belum berkendara ke mana-mana.
Angka 100.000 kilometer tidak ada apa-apanya.

Surakarta Utara, 15-16 Januari 2018
Padmo Adi

Comments