MARIA GRAVIDA: Merefleksikan Peristiwa Kehamilan Maria, Kala Maria Mengalami Perubahan Radikal pada Tubuhnya

 MARIA GRAVIDA Merefleksikan Peristiwa Kehamilan Maria Kala Maria Mengalami Perubahan Radikal pada Tubuhnya Patung Maria Gravida berjudul Humanity of Mary  karya Galuh Sekartaji Patung ini sekarang ada di Kapel Kanisius, Jakarta Foto oleh Alexander Koko, S.J. Dari sekian banyak hal yang dapat dilakukan perempuan tanpa dapat dilakukan laki-laki, salah satunya adalah hamil. Perempuan secara biologis dianugerahi rahim, tempat tumbuhnya janin selama kurang-lebih 9 bulan. Peristiwa hamil dapat memiliki beragam makna bagi diri perempuan; bisa positif bisa juga negatif. Pada umumnya banyak perempuan menanti-nantikan kehamilan ini, bahkan merawat kehamilan ini dengan sungguh, hingga melahirkan nanti. Walau, dalam beberapa kasus ada juga kemudian perempuan yang menolak kehamilannya. Penolakan kehamilan ini biasanya terjadi karena situasi sosial yang tidak mendukung, misalnya ketiadaan lelaki—sang suami. Situasi tanpa lelaki (baca: suami) itu pulalah yang dialami Maria (atau dalam tr...

NUSANTARA... TANAH GARUDA!

NUSANTARA... TANAH GARUDA!


Indonesia,
Sabang-Merauke.
Lebih jauh dari pada London di Inggris ke Ankara di Turki.
Sama jauhnya dengan Pantai Barat hingga Pantai Timur Amerika Serikat.
Namun, baru di 3-4 pulaunya saja aku berkendara.
Begitu kaya, sekaligus begitu nelangsa...
Indonesia.
 
Gunung Merapi, Yogyakarta, Pulau Jawa
Andalas...
Pada ujung selatanmu aku pernah berdoa,
memohon Tuhan mengaruniaiku putra.
Tapi, mungkinkah aku sampai di ujung utara daratanmu,
berkendara di tanah Pendekar Perempuan gagah perkasa,
penetak kejantanan Belanda?

Celebes...
negeri para petualang dan pelaut ulung... .
Pemudamu petarung sejati.
Anak daramu bagaikan impian.

Papua...
kiranya kau bukan luka yang terus menganga!
Biarlah suaramu menggema di angkasa Nusantara.
Dan, deru berat sepatu boot itu sirna. Jadi senyum saudara.
Baku peluk. Bakar batu.
 
Pantai Sapenan, Lampung, Pulau Sumatera
Borneo...
akankah roda-rodaku merasakan lumpur musim hujanmu,
atau debu musim kemaraumu?
Pada tanahmulah sayatan oleh pisau keserakahan... kapitalisme.
Hutan hujanmu lestarilah.
Born-neo... .

Sunda Kecil... Sunda Kecil...
tunggulah kenekatanku.
Akan kuajak anak lelakiku berkendara
menyusuri pantaimu.
Inilah janji... .
Tunggulah kami.

Indonesia,
bagaimana mungkin aku tertarik berkendara ke ujung dunia,
ketika semua hingga ujung dunia berbondong-bondong pergi kepadamu?
 
Danau Tamblingan, Pulau Bali
Nusantara... Tanah Garuda!
Kelima silanya menyadarkanku,
Jawa, Surakarta, apa lagi Katolik itu bukan apa-apa,
hanya kepingan kecil dari Nusantara Raya.
Dan, seolah-olah aku belum berkendara ke mana-mana.
Angka 100.000 kilometer tidak ada apa-apanya.

Surakarta Utara, 15-16 Januari 2018
Padmo Adi

Comments