SEMAKIN MALAM

  SEMAKIN MALAM *untuk Arjun   Semakin malam... Mari hadapi hidup, walau pahit. Tidak lagi lari atau cari-cari alasan. Ya, atau tidak sama sekali... selain daripada dua itu, bukan jalan Tuhan. Kalau lelah, berhenti, satu suapan dulu, satu tegukan dulu, dan satu ududan dulu. Lalu lanjut. Sampai jumpa.   06 Januari 2021 Padmo Adi Mampir makan, istirahat. Dokumen pribadi.

KISAH LELAKI DI DALAM KOTAK LIMA INCHI

KISAH LELAKI DI DALAM KOTAK LIMA INCHI

Suatu hari kelak anak turunku akan membuka Sarang-Kalong.
Di sana mereka akan bertemu denganku...
sama seperti ketika aku bertemu Bapak pada buku hariannya...
sama seperti ketika aku bertemu Eyang Wareng pada museum Radya Pustaka.

Malang memang nasibku. Aku diceraikan dari Surakarta, walau aku ingin pulang ke sana, pasca-Salatiga, pasca-Ayodyakarta. Namun, dengan begitu, Surakarta menjadi jouissance yang hilang... Tanah Suci tempat naungan Fantasi.

...

Maka, kiranya genaplah tulisan ini:

“Bapak bagi bapak
adalah lelaki sepuh
dalam rumah tua di Kauman.

Bapak bagiku
adalah lelaki yang terbaring
di bawah batu marmer hitam.

Bapak bagi anakku
adalah lelaki
di dalam kotak lima inchi.”

Dokumen pribadi.

...

Malang memang nasibku.
Namun, jika aku boleh bernegosiasi,
suatu waktu nanti aku harus mengangsu,
izinkan aku menimba di bawah Ringin Soekarno lagi.

Malang, 23 Oktober 2019
Padmo Adi

Comments