SATU OKTOBER

  SATU OKTOBER   40 HARI | 135 KORBAN JIWA | 6 TERSANGKA Dua ratus sembilan belas atau seratus dua lima Yang jelas, kami bukan cuma angka! Kami adalah para pecinta Datang ke Kanjuruhan bawa harapan Bersama keluarga, anak-anak, dan sahabat Mendukung para pahlawan kami yang hebat   Gas air mata yang polisi tembakkan di Kanjuruhan Membuat air mata ibu kami berguguran Mayat-mayat kami adalah korban keserakahan Bagi cukong-cukong yang otaknya cuma cuan, Kami hanya dipandang satu tiket satu goban Bukan nama yang punya cerita dan masa depan   Usut! Usutlah! #USUTTUNTAS! Kalian harus jaga solidaritas! Kita ini pecinta, bukan komoditas! Cinta hal yang sama: sepak bola demi peradaban Satu Oktober punya makna beda tahun depan Itu hari akan jadi hari damai dan persaudaraan!   Kini, doakanlah kami... Selalu kenangkanlah kami... Kanjuruhan satu Oktober Adalah #KanjuruhanDisaster Jangan lagi terulang... Kami telah pulang.   Malang, 03 Oktobe

API PASKAH

 API PASKAH

 


Aku melihat api. Api di mana-mana.

 

Ada orang ingin mengebom gereja.

Tanpa dia tahu, gereja sudah setahun ini kosong.

Masing-masing streaming misa online dari rumah.

 

Tapi, dia nekat mendatangi gereja.

Meledakkan diri.

Ususnya terburai.

Wajahnya tersenyum.

Gosong.

 

Santo Petrus, penjaga gerbang surga, menemuinya.

Minta apimu... aku ingin udud dulu.

Lelaki itu bingung.

Tidak ada bidadari.

Hanya Petrus, lelaki Yahudi.

 

Santo Petrus kasihan padanya.

Lelaki itu tak diakui agamanya.

Terlanjur jadi arang... baunya anyir.

 

Tuhan di mana?

Tuhan adalah api.

Jadi, benar aku mati demi Tuhan?

Ini kretek. Ududlah dulu. Seminggu lagi Paskah.

Nanti kau aku permandikan... dengan air. Biar tidak gosong begitu.

Tidak. Aku mau dibakar api.

Tuhan adalah air.

 

Santo Petrus tidak paham,

sebenarnya lelaki itu hanya ingin dibaptis...

dengan api.

Seperti janji Isa pada murid-murid-Nya.

Hanya saja, dia salah baca.

Api Roh Tuhan adalah cinta, bukan mesiu.

 

Santo Petrus menghabiskan kreteknya.

Dipandanginya lelaki gosong itu...

menangis tersedu-sedu.

 

29 Maret 2021

Padmo Adi

Comments