DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

NESTAPA

NESTAPA

 

Maut merayap segala penjuru

menggedor-gedor di semua pintu

Para raja sibuk mikir gentongnya

kendi jatah kita malah tak tiba

Kematian ada di depan mata

Namun, masih saja kita bersengketa,

siapa yang layak jadi presiden nanti

Betapa bebal dan tololnya ini!

 

Hidup dan mati anak manusia

hanya jadi semata angka saja

Kita ditinggal sendiri dalam pilu

Hanya diingat perlu kala pemilu

 

Aku melihat mayat-mayat di kota-kota

Sementara yang sekarat mengiba udara

Yang lengah dan tidak percaya pun tersungkur

Yang waspada tak punya alasan bersyukur

 

Kita dihimpit dari segala penjuru

Mati sesak napas atau kena peluru

Mati teracun atau mati kelaparan

Tinggal mati damai jadi satu harapan

 

Singosari, 17 Juni 2021

Padmo Adi

Comments