DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

SEMAKIN MALAM

 SEMAKIN MALAM

*untuk Arjun

 

Semakin malam...
Mari hadapi hidup, walau pahit.
Tidak lagi lari atau cari-cari alasan.
Ya, atau tidak sama sekali...
selain daripada dua itu, bukan jalan Tuhan.
Kalau lelah, berhenti, satu suapan dulu, satu tegukan dulu, dan satu ududan dulu.
Lalu lanjut.

Sampai jumpa.

 

06 Januari 2021

Padmo Adi


Mampir makan, istirahat. Dokumen pribadi.


Comments