DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

JIP TUA

JIP TUA

*untuk Cahyo, Vina, dan Argha

 

Yang satu menghuni kaki Merapi.
Yang satunya menghuni kaki Merbabu.
Yang satunya lagi menghuni kaki Arjuna.

Kami memang tidak kencang dan sudah tua.
Namun, kami mampu pergi ke mana saja.
Merayapi tanjakan, menyusuri turunan.
Naik gunung, turun ke lembah.
Terjun ke sungai atau kemping di pantai.

Namun, keinginan kami sederhana:
duduk melingkar bersama
sambil minum susu macan
di bawah Beringin Soekarno,
lalu menyanyi dan baca puisi...
seperti dahulu kala ketika muda.

 

Kami tidak cepat, tapi ke mana saja kami dapat!

20 Mei 2022

Padmo Adi

Comments