SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

BULAN KEMERDEKAAN

 BULAN KEMERDEKAAN

 

麦わらの一味

Dua minggu lalu kita dipanggang matari

dengan cinta mengenang kebebasan

hormat pada Merah-Putih

lambang darah-keringat perjuangan moyang

simbol cinta-harapan hidup sejahtera

di tanah merdeka, milik kita!

 

Pada Minggu itu aku saksikan kawan-kawanku

berdandan a la pejuang dan pahlawan

memainkan kembali kisah perlawanan

Lalu bersama bergembira

Delapan puluh tahun kita merdeka!

 

Merdeka?

Kamis lalu seorang pemuda tewas dilindas ACAB!

Hari ini seorang mahasiswa mati dipersekusi ACAB!

Mana Sila Kedua Pancasila?!

 

Kami bersuara bukan karena benci!

Kami hanya ingin Sila Kelima Pancasila

terwujud nyata di tanah kita!

 

Aku tidak akan pernah lagi sudi

mengajar Pancasila dan Kewarganegaraan di negeri ini!!!

 

Biadab-biadab itu adalah monster

yang dididik untuk hanya tahu menyiksa, mendera, dan membunuh!

Biadab-biadab itu adalah Herder

yang dilatih untuk melindungi kepentingan Babi rakus dengan patuh!

 

Beginilah nasib manusia yang setia bekerja lalu nurut bayar pajak; seperti sapi yang siap diperah susunya, seperti domba yang siap dipotong lehernya. Beginilah nasib rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan! Beginilah nasib warga yang diwakili oleh para garong dan bromocorah!! Beginilah nasib bangsa yang punya pemimpin seorang pendusta, penculik, dan pembunuh!!!

 

Dan kini

aku menyaksikan kabut kematian dihembuskan dari istana

Ndhas-ndhas kothak bergentayangan!

Setelah dua puluh tujuh tahun mereka dikembalikan ke alamnya;

kini mereka punya izin untuk menenggak darah kita semua!

  

Wahai Sukarno!

doakanlah kami

Wahai Hatta!

doakanlah kami

Wahai Sjahrir!

doakanlah kami

Wahai Tan Malaka!

doakanlah kami

Wahai Hok Gie!

doakanlah kami

Wahai Pramoedya!

doakanlah kami

Wahai Thukul!

doakanlah kami

Wahai Marsinah!

doakanlah kami

Wahai Gus Dur!

doakanlah kami

Wahai Mangunwijaya!

doakanlah kami

Wahai Munir!

doakanlah kami

Wahai Udin!

doakanlah kami

Wahai Lambang!

doakanlah kami

 

...

 

Kristus! DATANGLAH SEGERA

ke negeri kami yang terkutuk ini!

Tuhan kasihanilah kami.

Wahai Anak Domba, utuslah Mikael

dan bala tentara surga melindungi kami,

warga Indonesia yang dianggap sapi

oleh pemimpinnya sendiri.

 

Singosari, 31 Agustus 2025

Padmo Adi

Comments